Data terstruktur membantu mesin pencari memahami isi halaman dengan lebih jelas. Bagi pemilik website, blog, atau toko online, pengujian data terstruktur menjadi langkah penting agar konten berpeluang tampil sebagai rich results di Google. Sayangnya, banyak orang sudah memasang kode schema tetapi belum memastikan apakah kode tersebut valid dan terbaca dengan benar.
Pada artikel ini, Solusitekno.id akan membahas cara menguji data terstruktur pada halaman website secara praktis. Anda bisa melakukannya lewat tools resmi Google, validator schema, browser, hingga pengecekan di smartphone Android. Simak langkah-langkahnya berikut ini.
Apa Itu Data Terstruktur dan Mengapa Perlu Diuji?
Data terstruktur adalah kode tambahan yang memberi tahu mesin pencari tentang konteks konten. Contohnya, sebuah halaman resep bisa diberi markup untuk nama masakan, bahan, waktu memasak, dan rating. Untuk artikel blog, data terstruktur biasanya berupa Article, BreadcrumbList, atau FAQPage.
Format yang paling umum digunakan adalah JSON-LD, meskipun masih ada microdata dan RDFa. Setelah kode dipasang, Anda tidak boleh langsung menganggapnya benar. Kesalahan kecil seperti properti wajib yang kosong, URL yang salah, atau tipe schema yang tidak sesuai dapat membuat data terstruktur gagal diproses.
Pengujian bertujuan memastikan dua hal: sintaks kode valid dan kontennya sesuai dengan halaman. Data terstruktur yang valid secara teknis tetap bisa tidak muncul sebagai rich result jika melanggar pedoman Google. Karena itu, pengujian perlu dilakukan sebelum dan sesudah halaman dipublikasikan.
Persiapan Sebelum Menguji Data Terstruktur
Sebelum masuk ke tools, siapkan beberapa hal agar proses pengujian lebih efisien. Pastikan halaman sudah dapat diakses publik atau Anda memiliki kode HTML lengkapnya.
- URL halaman yang akan diuji, misalnya halaman artikel, produk, atau FAQ.
- Kode data terstruktur jika ingin menguji potongan HTML secara langsung.
- Jenis schema yang digunakan agar Anda tahu properti wajibnya.
- Akses Google Search Console untuk memantau hasil validasi setelah halaman terindeks.
Jika website Anda dikelola lewat CMS seperti WordPress, pastikan plugin SEO atau schema tidak menghasilkan kode ganda. Duplikasi data terstruktur sering terjadi ketika plugin dan tema sama-sama menyisipkan markup. Hal ini bisa membingungkan mesin pencari dan memicu peringatan.
1. Menguji dengan Rich Results Test Google
Rich Results Test adalah tool resmi Google untuk melihat apakah halaman memenuhi syarat rich results. Buka tool tersebut, lalu masukkan URL halaman atau tempelkan kode HTML. Setelah diproses, tool akan menampilkan jenis data terstruktur yang terdeteksi.
Perhatikan bagian Eligible for rich results dan Errors. Jika muncul error, baca detailnya karena biasanya Google menyebutkan properti yang bermasalah. Tool ini sangat berguna untuk schema yang didukung Google, seperti Article, Product, Recipe, FAQ, dan Event.
Namun, Rich Results Test tidak mendukung semua jenis schema. Jika tipe data terstruktur Anda tidak muncul, jangan langsung panik. Gunakan validator lain yang lebih universal untuk memeriksa validitas sintaks dan properti.
2. Memeriksa dengan Schema Markup Validator
Schema Markup Validator dari Schema.org dapat memeriksa hampir semua tipe data terstruktur. Tool ini cocok ketika Anda menggunakan schema yang tidak memiliki rich result khusus di Google. Masukkan URL atau kode, lalu lihat daftar properti yang terbaca.
Fokus pada bagian Errors, Warnings, dan Unrecognized properties. Error berarti ada masalah yang perlu diperbaiki, sedangkan warning biasanya bersifat saran. Properti yang tidak dikenali bisa saja tetap valid, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan dokumentasi Schema.org.
Pastikan juga nilai properti cocok dengan konten yang terlihat oleh pengguna. Contohnya, nama produk di schema harus sama dengan nama produk di halaman. Google menekankan bahwa data terstruktur tidak boleh menampilkan informasi yang disembunyikan dari pengunjung.
3. Melihat Data Terstruktur Langsung di Browser
Cara sederhana untuk memastikan kode benar-benar ada adalah melihat sumber halaman. Klik kanan pada halaman, pilih View Page Source, lalu cari teks application/ld+json. Anda juga bisa menggunakan fitur Inspect di Chrome untuk melihat elemen script yang dimuat.
Langkah ini membantu mendeteksi kode yang tidak sengaja terhapus, tertimpa plugin, atau hanya muncul di halaman tertentu. Jika menggunakan JavaScript untuk menyisipkan schema, pastikan kode tetap terlihat setelah halaman selesai dimuat. Beberapa crawler mungkin memproses JavaScript, tetapi pengecekan manual tetap penting.
Anda juga bisa memeriksa melalui Chrome DevTools di desktop maupun Android. Di Android, buka halaman di Chrome, lalu gunakan opsi desktop site jika perlu. Untuk pengecekan lebih mendalam, hubungkan smartphone Android ke komputer dan gunakan remote debugging.
4. Memantau Lewat Google Search Console
Google Search Console memberikan laporan data terstruktur berdasarkan halaman yang sudah di-crawl Google. Buka menu Enhancements atau Pengoptimalan, lalu pilih jenis rich result yang relevan. Di sana Anda akan melihat jumlah item valid, valid dengan warning, dan error.
Klik salah satu kategori untuk melihat contoh URL yang bermasalah. Gunakan informasi ini untuk memperbaiki kode, lalu minta validasi ulang melalui tombol Validate Fix. Proses ini tidak instan karena Google perlu melakukan crawl ulang terhadap halaman.
Search Console juga membantu memantau tren setelah perbaikan. Jika error menurun dan item valid bertambah, berarti implementasi data terstruktur Anda berjalan ke arah yang benar. Pantau secara berkala, terutama setelah mengubah tema, plugin, atau template website.
5. Menguji Tampilan dan Performa di Smartphone Android
Sebagian besar trafik website saat ini berasal dari perangkat mobile. Karena itu, uji halaman menggunakan Chrome di Android untuk memastikan data terstruktur tidak mengganggu tampilan. Perhatikan apakah halaman tetap cepat, rapi, dan informasinya konsisten.
Gunakan juga PageSpeed Insights atau Lighthouse untuk melihat performa secara umum. Data terstruktur tidak boleh membuat halaman berat karena blok JSON-LD biasanya berukuran kecil. Jika halaman terasa lambat, periksa plugin schema yang mungkin memuat skrip tambahan secara berlebihan.
Untuk website dengan konten dinamis, lakukan pengujian pada beberapa tipe halaman. Misalnya halaman artikel, kategori, produk, dan profil penulis. Dengan begitu, Anda tahu apakah schema berfungsi konsisten di seluruh bagian website.
Kesalahan Umum Saat Menguji Data Terstruktur
Beberapa kesalahan sering muncul ketika webmaster melakukan pengujian. Mengenali pola ini dapat menghemat waktu dan mengurangi risiko penalti SEO.
- Menguji kode yang belum dipublikasikan, sehingga hasil di Search Console tidak sesuai.
- Mengabaikan properti wajib, seperti headline pada Article atau name pada Product.
- Menggunakan schema yang tidak relevan dengan jenis halaman.
- Membuat data terstruktur berbeda dari konten yang terlihat pengguna.
- Memasang kode ganda dari plugin, tema, dan edit manual sekaligus.
Jika menemukan error, perbaiki satu per satu dan uji ulang. Jangan menambahkan schema baru sebelum masalah utama selesai. Dokumentasi resmi Google dan Schema.org adalah rujukan terbaik untuk memastikan properti yang digunakan sudah tepat.
Kesimpulan
Menguji data terstruktur adalah langkah wajib agar halaman website lebih mudah dipahami mesin pencari. Gunakan Rich Results Test untuk schema yang didukung Google, Schema Markup Validator untuk pengecekan umum, dan Search Console untuk memantau hasil setelah halaman terindeks. Jangan lupa cek langsung di browser serta smartphone Android agar implementasinya benar-benar optimal.
Mulai sekarang, buka salah satu halaman terbaik di website Anda dan lakukan pengujian data terstruktur. Jika menemukan error, perbaiki properti yang bermasalah lalu validasi ulang. Dengan kebiasaan ini, peluang halaman tampil lebih menarik di hasil pencarian akan semakin besar.